TUGAS IT MINGGUAN
Rabu, 18 Januari 2012
Minggu, 01 Januari 2012
Wisata Sejarah dan Budaya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan
Nagara
Nagara merupakan kota kecil yang ditempati Sungai Nagara (cabang Sungai Barito) dan sering meluap. Karena itu, rumah penduduk di tenpat ini umumnya adalah rumah yang dibangun di atas tiang-tiang tinggi. Pada saat musim hujan, hampir seluruh bagian kota tertutupair kecuali jalan yang sengaja dibuat tinggi, namun pada puncak musim hujan, permukaan jalan juga tertutup air sehingga Nagara berubah menjadi semacam “Kota Air”.
Menurut catatan sejarah, Nagara yang terletak tidak jauh dari kota Kandangan, merupakan ibukota dari kerajaan pertama di Kalimantan Selatan bernama Nagara Dipa sebelum dipindahkan oleh Pangeran Samudera ke Bandarmasih yang kemudian berkembang menjadi Kota Banjarmasin saat ini. Nagara juga menjadi pusat kerajinan senjata tajam seperti pedang, golok dan keris. Para pengrajin ditempat ini mampu menghasilkan berbagai jenis senjata tajam seperti Mandau dengan bentuk yang indah dilengkapi dengan sarungnya.
Mandau adalah pedang tradisional suku Dayak yang dibuat di Desa Hadirau dan Tumbukan Banyu. Pembuatannya memnggunakan peralatan sederhana dan diselesaikan sekelompok pengrajin dan Mandau hanya di buat untuk hiasan. Tapi adapula Mandau yang khas dibuat sendiri oleh ahlinya dan pedang ini dipercayai memiliki kekuatan magis yang diisi melalui upacara ritual.
Pembuatan gerabah terletak di Desa Bayanan tidak jauh dari Pasar Nagara, pengunjung bisa menyaksikan setiap tahapan pembuatan dengan peralatan sederhana atau bahkan pengunjung bisa memcoba ikut untuk pembuatannya. Pengrajin biasanya membuat bermacam-macam bentuk Tembikar dan yang terkenal adalah Dapur Nagara atau Anglo.
Situs amuk Hantarukung (Makam Tumpang Talu)
Amuk Hantarukung salah satu momen sejarah yang mengingatkan warga Kalsel terutama Hulu Sungai Selatan Kandangan, tentang kegigihan perjuangan rakyat setempat yang dimotori Bukhari dan kawan-kawan melawan penjajah Belanda.
Semangat Amuk Hantarukung dalas batapung tali salawar dalas balangsar dada tak mau dijajah ini.
Situs amuk Hantarukung (Makam Tumpang Talu) SEJARAH AMUK HANTARUKUNG
Bukhari dari Hantarukung (lahir : 1850 di Hantarukung, Simpur, Hulu Sungai Selatan, wafat : 19 September 1899 di Hantarukung, Simpur, Hulu Sungai Selatan). Bukhari adalah salah seorang pejuang Perang Banjar yang memimpin perlawanan rakyat yang disebut Amuk Hantarukung yang terjadi di masa Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari. Ayah Bukhari bernama Manggir dan ibu bernama Bariah kelahiran desa Hantarukung, dalam wilayah Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Bukhari dilahirkan sekitar tahun 1850 dan semasa mudanya mengembara ke Puruk Cahu (Murung Raya, Kalimantan Tengah) mengikuti pamannya Kasim yang menjadi panakawan (asisten) dari Sultan Muhammad Seman. Sejak itu Sultan Muhammad Seman menjadikan Bukhari sebagai panakawan (asisten) Sultan, dan Bukhari ikut berjuang di daerah Puruk Cahu, Kalimantan Tengah.
Bukhari seorang yang setia mengabdikan dirinya. Ia orang yang dipercaya sebagai Pemayung Sultan. Ia dikenal di kalangan istana sebagai seorang yang mempunyai ilmu kesaktian dan kekebalan. Bahkan tersiar berita bahwa dengan ilmunya itu kalau ia tewas dapat hidup kembali. Ilmu ini diajarkan kepada siapa yang menjadi pendukungnya. Adanya kelebihan-kelebihan Bukhari tersebut, menyebabkan dia dan adiknya bernama Santar mendapat tugas untuk menyusun dan memperkuat barisan perlawanan rakyat terhadap Belanda di daerah Banua Lima, Kalimantan Selatan.
Menyusun Kekuatan Rakyat.
Dengan membawa surat resmi dari Sultan Muhammad Seman, Bukhari dan adiknya Santar datang ke desa Hantarukung untuk menyusun suatu pemberontakan rakyat terhadap pemerintah Belanda. Kedatangan Bukhari diterima hangat oleh penduduk desa Hantarukung. Dengan bantuan Pangerak Yuya, Bukhari berhasil mengorganisir kekuatan rakyat untuk melawan Belanda. Sebanyak 25 orang penduduk telah menyatakan diri sebagai pengikutnya, dan di bawah pimpinan Bukhari dan Santar siap untuk melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda. Gerakan Bukhari ini bahkan kemudian mendapat dukungan selain penduduk Hantarukung, juga penduduk kampung Hamparaya dan Ulin. Sehubungan dengan itu alasan perlawanan yang dikemukakan bahwa penduduk dari tiga kampung itu tidak bersedia lagi melakukan kerja rodi . Sikap penduduk dan tindakan Pangerak Yuya yang tidak mau menurunkan kuli (penduduk) untuk menggali garis antara Amandit-Negara tersebut, kemudian dilaporkan oleh Pambakal Imat kepada Kiai (gelar kepala distrik), karena yang bersangkutan sedang tidak ada di tempat, Pambakal melaporkan kepada Controleur Belanda di kota Kandangan.
Perlawanan Rakyat 18 September 1899
Penguasa Belanda di Kandangan sangat marah mendengar berita itu pada tanggal 18 September 1899 berangkatlah rombongan penguasa Belanda yang terdiri dari Controleur Adsenarpont Domes dan Adspirant K. Wehonleschen beserta 5 orang Indonesia (opas dan pambakal) yang setia kepada Belanda. Dengan menaiki kereta kuda dan diikuti yang lainnya Controleur Adsenerpont Domes ke desa Hantarukung menemui Pangerak Yuya. Pangerak yang telah bekerja sama dengan Bukhari untuk melawan pemerintah Belanda ini ketika dipanggil oleh Controleur keluar dari rumahnya dengan tombak dan parang tanpa sarung. Setelah terjadi tanya jawab mengenai mengapa penduduk tidak mengerjakan lagi gerakan menggali garis Amandit-Negara, tiba-tiba muncul ratusan penduduk di bawah pimpinan Bukhari dan Santar sambil mengucapkan shalawat nabi maju ke arah Controleur dengan senjata tombak, serapang (trisula) dan lain-lainnya.
Dalam peristiwa itu telah terbunuh tuan Controleur Domes dan Adspirant Wehonleshen serta seorang anak emasnya. Sementara 4 orang lainnya dapat melarikan diri. Mereka itu antara lain opas Dalau dan Kiai Negara (kepala Distrik Negara). Peristiwa tanggal 18 September 1899 ini terkenal dengan Pemberontakan Amuk Hantarukung yang dipelopori oleh Bukhari, seorang yang secara resmi diperintahkan oleh Sultan Muhammad Seman dengan mengirimkan ke desa asal kelahirannya Hantarukung.
Perlawanan Rakyat 19 September 1899.
Peristiwa 18 September 1899 dengan terbunuhnya Controleur dan Adspirant Belanda segera sampai kepada pejabat-pejabat Belanda di kota Kandangan. Kemarahan pihak Belanda tidak dapat terbendung lagi. Besok harinya pada hari Senin tanggal 19 September 1899 sekitar pukul 13.00 siang hari pasukan Belanda datang untuk mengadakan pembalasan terhadap penduduk. Serangan pembalasan tersebut dipimpin oleh Kiai Jamjam putera daerah sendiri, dengan diperkuat oleh 2 Kompi serdadu Belanda bersenjata lengkap. Penduduk desa Hantarukung telah menyadari pula peristiwa yang akan terjadi. Beratus-ratus penduduk di bawah pimpinan Bukhari, Santar dan Pengerak Yuya siap dengan senjata mereka di pinggiran hutan dan keliling danau menanti kedatangan pasukan Belanda. Ketika sampai di desa Hantarukung di suatu awang persawahan, melihat keadaan sepi, Kapten Belanda melepaskan tembakan peringatan agar penduduk menyerah. Pada waktu itulah Bukhari bersama-sama Haji Matamin dan Landuk tampil dengan senjata terhunus maju menyerbu musuh sambil mengucapkan Allahu Akbar berulang-ulang. Tindakan Bukhari tersebut diikuti para pengikutnya yang sudah siap untuk berperang, pertempuran sengit terjadi. Bukhari, Haji Matamin dan Landuk dan Pengerak Yuya gugur di tembus peluru Belanda. Melihat pemimpin-pemimpin mereka terbunuh penduduk lari menyelamatkan diri. Dalam peristiwa 2 hari di Hantarukung tersebut telah terbunuh masing-masing di pihak Belanda adalah Controleur Domes, Adspirant Wehonleschen dan seorang pembantunya. Sementara dari pihak penduduk telah gugur : Bukhari, Haji Matamin, Landuk, Pangerak Yuya.
Penangkapan Penduduk oleh Belanda
Peristiwa ini berlanjut dengan terjadinya pembersihan secara kejam oleh Belanda terhadap penduduk yang terlibat terutama penduduk di desa Hantarukung, Hamparaya, Ulin, Wasah Hilir dan Simpur. Penangkapan segera dijalankan oleh militer Belanda. Mereka yang ditangkapi tersebut berjumlah 23 orang yakni : Hala, Hair, Bain, Idir, Sahintul, H. Sanadin, Fakih, Unin, Mayasin, Atma, Alas, Tanang, Tasin, Bulat, Sudin, Matasin, Yasin, Usin, Sahinin, Unan, Saal, Lasan dan Atmin. Selanjutnya yang mati di dalam penjara adalah : Hala, Hair, Bain, dan Idir. Sedangkan yang mati digantung adalah : Sahitul, H. Sanaddin, Fakih, Unin, Mayasin, Atma, Alas, Tanang dan Tasin. Mereka yang dibuang keluar daerah adalah: Bulat, Suddin, Matasin, Yasin, Sahinin, Unan, Saal, Lasan, Atnin, dan Santar. Jenazah Bukhari, Landuk dan Matamin dimakamkan di Kampung Perincahan, Kecamatan Kandangan, Hulu Sungai Selatan yang dikenal dengan makam Tumpang Talu. Sedangkan sembilan orang dihukum gantung oleh Belanda tersebut dimakamkan di kuburan Bawah Tandui di Kampung Hantarukung di Kecamatan Simpur, Hulu Sungai Selatan.
Jumat, 30 Desember 2011
BNTENG MADANG WISATA HSS
Jika Anda jalan-jalan ke kecamatan Padang Batung, maka di sebelah Utara Anda akan bertemu dengan sebuah desa yang bernama Madang. Kawasan ini merupakan dataran tinggi atau daerah pegunungan, oleh karena itu hawanya terasa sejuk. Dataran tinggi tersebut pada masa Kerajaan Banjar oleh Tumenggung Antaluddin ditata dan dibuat benteng pertahanan dalam menghadapi serangan serdadu Belanda.
Tercatat ada lima kali serangan yang dilakukan oleh serdadu Belanda dan semuanya dapat dikalahkan oleh pasukan Pangeran Hadayatullah dan Demang Lehman. Serangan-serangan serdadu Baelanda tersebut dilakukan pada tanggal 3,4,13,18 dan 22 September 1860. Pada serangan yang keempat tanggal 18 September 1860, pasukan infantri serdadu Belanda yang dipimpin oleh Kapten Koch dihajar habis-habisan oleh pasukan Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman, sehingga banyak serdadu Belanda yang tewas termasuk Kapten Koch sendiri.
Sekarang Benteng Madang yng letaknya berada diketinggian ini telah ditata dan direnovasi oleh Pemda HSS dengan anak tangga lebih dari 400 buah. Benteng Pertahanan yang dibangun pada zaman kerajaan Banjar yang sekarang menjadi tempat rekreasi atau kawasan sejarah ini dapat dicapai dengan menggunakan mobil dari Kota Kandangan dengan jarak ± 8 Km.
Kalangan Hadangan Di Nagara HSS KalSel
Bagi para fotografer khususnya fotografer Kalimantan Selatan terutama bagi mareka yang sering melakukan Hunting Ke tempat tempat wisata di Kalimantan selatan pasti sudah tidak asing lagi dengan Nama Kalangan Hadangan ( Kandang Kerbau Rawa ) Di Nagara HSS. Tempat Penggembala Kerbau Rawa bekerja ini dapat menjadi tempat yang Unik dan Eksotik Untuk objek Foto dan merupakan tempat Favorit bagi para fotografer Kalsel.

Kalang adalah nama kandang kerbau ini. Kalang merupakan tumpukan kayu gelondongan yang disusun bersilangan dengan lantai papan setebal 10 cm yang ditata rapat. Tinggi kalang mencapai 5 meter tau tergantung kedalaman rawa; tinggi lantai kalang 1,5 meter dari permukaan air . Karena kerbau ini dikandangkan dikalang maka masyarakat sekitar mengenalnya hadangan kalang .

Perjalanan untuk melihat kerbau rawa harus menggunakan kapal (kapal kelotok), sejenis kapal angkut penumpang kapasitas 30 orang. Perjalanan dimulai dengan menyusuri sungai Nagara menuju rawa di wilayah nagara. Perjalanan ke lokasi sekitar 30 menit. Pemilihan kapal untuk disewa perlu diperhatikan pada pengetahuan sopir/nahkoda yang telah mengetahui jalur dirawa. Hal ini dilakukan untuk menghindari kandasnya kapal saat menyusuri rawa
Jumat, 23 Desember 2011
TUGAS IT MINGGUAN
GUNUNG/BUKIT KANTAUAN
Bila pada pagi hari kita berhenti sejenak di depan penginapan / lodge Arjuna di kampung Muara Hatip, bukit ini akan tampak terlihat berdiri gagah dan sedikit angkuh disela sela kabut yang masih enggan beranjak, sangat menantang para petualang untuk mendakinya.
Desa Muara Hatip dikaki bukit Kantauan ini dulunya berdiri sebuah Balai adat dari salah satu kelompok dayak bukit yang bernama Balai Tamiang Malah, tapi balai tersebut sudah rusak tidak terurus ditambah lagi masyarakatnya sudah banyak yang berpindah dari kepercayaan kaharingan. Karena lokasinya yang strategis, indah dan menantang sekarang desa Muara Hatip sering dijadikan base camp bagi kegiatan out bond oleh beberapa instansi baik pemerintahan maupun swasta.
Pada tanggal 8 November 2008 yang lalu, +/- 70 personil rekan rekan pecinta sepeda gunung dari Banjarmasin dan Tapin juga menjadikan desa Muara Hatip sebagai base camp dan starting point untuk penjelajahan sampai ke Loksado dan Haratai dengan menggunakan MTB. Tunggu posting berikutnya untuk liputan: Serunya bersepeda gunung dari Muara Hatip ke Haratai..........
Kamis, 15 Desember 2011
TUGAS IT MINGGUAN
Bila Anda ingin suasana liburan yang berbeda, datanglah ke Loksado, pemukiman masyarakat Dayak-Meratus di hulu Sungai Amandit, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan.
Selain alamnya yang asri, di sana juga terdapat rumah panjang suku Dayak (Balai Malaris), air terjun Haratai, Danau Bangkau, Bukit Kantawan dan pemandian air panas Tanuhi.
Di antara sekian banyak objek wisata yang ada di tanah Loksado, ada satu hal yang menjadi tujuan wisata utama para wisatawan. Yaitu menantang adrenalin, menyusuri sungai sepanjang 12 km dengan menggunakan Bamboo Rafting.
Sungai Amandit memiliki aliran air yang lumayan deras dan batu-batuan yang menantang untuk Anda taklukkan.
Bamboo Rafting atau masyarakat lokal menyebutnya sebagai Balanting Paring, sangat berbeda dengan arung jeram yang biasanya menggunakan perahu karet. Di Loksado Anda berarung jeram dengan menggunakan rakit bambu yang terbuat dari 50-70 batang bambu yang diikat menjadi satu hingga berbentuk rakit.

TUGAS IT MINGGUAN 12 NOVEMBER KELOMPOK
Sabtu, 12 November 2011
TUGAS IT MINGGUAN
Sabtu, 12 November 2011
"WISATA ALAM HARATAI KAB.HSS"
NAMA : SRI NORHIDAYATINPM : 30611E2012
KELOMPOK : 3 (tiga)
CLASS : ENGLISH / E/ A
Haratai bertempat di desa loksado kab. hulu sungai selatan. disana adalah daerah pegunungan. disana terdapat sebuah panorana alam yang sangat indah, yaitu air terjun. biasanya tempat wisata ini ramai dikunjungi pada hari-hari libur ataupun akhir pekan. disana terdapat air terjun yang berketinggian sekitar + 4 meter, dengan kerindangan dan masih berudara segar pegunungan. Selain tempatnya yang indah, menuju tempat air terjun ini pun menjadi sebuah petualangan yang menarik. karena tempatnya yang cukup jauh di dalam pegunungan, tempat wisata air terjun ini juga harus melalui beberapa tempat melalui sungai-sungai yang berarus deras dengan jembatan penghubung yang tidak permanen, jadi membuat adrenalin kita semakin tertantang. ini lah sedikit kisah dari keindahan alam di kabupaten HSS.
Diposkan oleh sr
Langganan:
Postingan (Atom)

